MAKALAH PERBANDINGAN AGAMA
ORGANISASI KLENTENG HOK
LING BIO
KUDUS
A. Pendahuluan
Pada
tanggal 17 Mei 2011 para mahasiswa STAIN Kudus program studi PAI bimbingan ibu
Eva Ida Amaliyah, MA mata kuliah perbandingan agama mengadakan observasi di
klenteng Hok Ling Bio depan menara kudus.
Observasi
dibagi empat kelompok besar yang terdiri dari kelompok organisasi, ajaran,
sejarah ,dan hubungan internal eksternal. Kami kelompok pertama meneliti
tentang organisasi, dari data yang kami peroleh waktu observasi bahwa susunan
organisasi kelenteng Hok Ling Bio adalah sebagai berikut:
Susunan Pengurus
1. Pembina
Ø Ketua ; Tuan Wignyo Hartono
Ø Anggota
;1. Tuan Djoyo Handriyo
2. Tuan Judo Rahardjo
2.
Pengurus
Ø Ketua ; Tuan The Chiung Shiung
Ø Sekretaris
; Nyonya Elina Nurlianti
Ø Bendahara;
Tuan Suhartono Rahardjo
1. Pengawas
Ø Ketua ;Tuan Sugiono
Ø Anggota ; Tuan Santoso Budi Wibowo
Dari
data tersebut, peneliti menganalisis dengan menggunakan metode pendekatan
kualitatif adalah sebagai berikut;
A. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah field research, yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan
peneliti langsung terjun ke kancah penelitian atau tempat fenomena terjadi.[1]
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif, pendekatan kualitatif
pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi
dengan mereka berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia
sekitarnya[2]
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan analisis
data deskriptif kualitatif. Pendekatan analisis data deskriptif kualitatif
adalah menemukan dan menafsirkan data yang ada, maksudnya pendekatan ini dalam
mengungkapkan data yang dapat digambarkan dengan kata-kata.[3]
Dengan digunakan pendekatan kualitatif, maka data
yang didapat akan lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel, dan bermakna
sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Karena penelitian ini akan mencari
data yang bersifat proses kerja, perkembangan suatu kegiatan, deskripsi yang
luas dan mendalam, perasaan, norma, kenyakinan, sikap mental, etos kerja dan
budaya yang dianut seseorang maupun sekelompok orang dalam lingkungan kerjanya.
Maka dari itu penelitian ini lebih cocok menggunakan penelitian kualitatif.
3. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
a.
Sumber
Sumber data dalam menunjang penelitian ini
dihasilkan dari dua sumber, yaitu :
1) Sumber
data primer, yaitu data yang bersumber langsung dari obyek yang diteliti. Data
primer ini bisa diperoleh dari Pembina, pengurus, dan pengawas klenteng Hok
Ling Bio.
2) Sumber
data sekunder, adalah data yang bersumber dari literatur untuk menyusun
kepustakaan pada landasan teori.
b.Teknik
Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
sehingga digunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara dan
observasi dan dokumentasi.[4]
1.
Wawancara
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk
bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan
makna dalam satu topik tertentu.[5]
Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang jalannya
organisasi klenteng hok ling bio
2. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data melalui
pengamatan dan pencatatan yang sistematis mengenai fenomena-fenomena yang
diselidiki.[6]
Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data
tentang keadaan umum klenteng hok ling bio.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik yang dipergunkan untuk
mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan kegiatan, prasasti, notulen,
agenda dan sebagainya.[7]
Metode ini diguanakan untuk memperoleh data yang bersifat dokumenter, seperti;
peta, foto, data-data tentang struktur organisasi klenteng hok ling bio
4. Teknis Analisis Data
Teknis analisis
yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Model
analisis ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu reduksi data, sajian data
dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Proses ini dilakukan dalam bentuk
interaktif dengan proses pengumpulan data sebgai suatu siklus.
Proses penelitihan kualitatif pada tahap ke I
disebut orientasi atau deskriptif. Data tahap peneliti mendiskripsikan apa yang
dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Mereka baru mengenal serba
sepintas terhadap informasi yang diperorehnya. Proses penelitihan kualitatif
pada tahap ke 2 disebut tahap reduksi/ fokus. Pada tahap ini peneliti
menfokuskan pada masalah tertentu dan meyortir data dengan cara memilih mana
data yang menarik, penting, berguna dan baru. Data yang dirasa tidak berguna
disingkirkan atau tidak terpakai. Sedangkan pada tahap ke 3 adalah tahap
selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan fakus yang telah ditatapkan
menjadi lebih rinci. Setelah peneliti menguraikan analisis yang mendalam
terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan tema
dengan cara mengkonstruksikan data yang diperoleh menjadi suatu bangunan
pengetahuan, hipotesis atau ilmu yang baru.[8]
5. Keabsahan Data (Validitas Data)
Uji keabsahan data dalam penelitian sering hanya
ditekankan pada validitas dan reliabilitas. Validitas merupakan derajat
ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang
dilaporkan oleh peneliti.[9]
Pada penelitian bermetode kualitatif, maka untuk
mengukur keabsahan data digunakan metode trianggulasi. Trianggulasi diartikan
sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai
teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. [10]
Dalam melakukan trianggulasi peneliti menggunakan :
a) Trianggulasi
metode adalah menggunakan lintas metode pengumpulan data,
b) Trianggulasi
sumber data, yaitu memilih berbagai sumber data yang sesuai,
c) Trianggulasi
pengumpul data yaitu beberapa peneliti yang mengumpulkan data secara terpisah.
Dengan teknik trianggulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi
seluas-luasnya atau selengkap-lengkapnya. Trianggulasi pengumpulan data,
misalkan untuk mendapatkan data dapat diperoleh melalui interview, sedangkan
untuk melengkapinya dapat dilakukan melalui observasi dan dokumentasi.[11]
B. Analisis
Masyarakat Kudus adalah masyarakat
yang terkenal sebagai masyarakat religius. Sikap religius masyarakat Kudus ini
tercermin dari beberapa sikap dan perilaku keseharian masyarakat Kudus yang
senantiasa dalam suasana khusyuk, tenang, tentram dan damai.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kebutuhan akan jasmani dan rohani sangat dibutuhkan oleh manusia. Untuk memenuhi
kebutuhan jasmani manusia bisa melakukan berbagai macam aktivitas seperti
berolah raga ataupun bekerja agar tetap sehat, sedangkan untuk kebutuhan rohani
manusia dapat mendekatkan dirinya kepada sang penciptanya dengan meyakini
sebuah kepercayaan dalam bentuk agama. Kepercayaan masyarakat keturunan Cina
(masyarakat Tionghoa) tidak diyakini sebagai agama, tetapi diakui sebagai
aliran saja yang dikenal sebagai aliran kepercayaan Khong Hu Cu.
Pemerintah
Indonesia menghormati keberadaan masyarakat Tionghoa dengan tidak
mendiskriminasikan dengan agama-agama lain yang ada di Indonesia, dimana
masyarakat Tionghoa diberi kewenangan untuk mendirikan tempat ibadah yang
sesuai dengan keyakinan yang diyakininya, dan tempat ibadah tersebut dikenal
dengan sebutan klenteng. Sampai saat ini, jumlah klenteng yang ada di Indonesia
sedikit jumlahnya dibandingkan dengan tempat ibadah agama-agama lainnya.
Di Kudus tahun 2004, data sarana
peribadatan menyebutkan bahwa jumlah
masjid 530 buah, mushola/langgar 1.772 buah, gereja Kristen 23 buah,
gereja Katholik 4 buah, Pure 1 buah, Vihara 11 buah dan Klenteng 3 buah salah satunya adalah klenteng Hok Ling Bio
yang terletak di jalan sunan kudus.[12]
Menurut kamus bahasa Indonesia,
Klenteng merupakan bangunan tempat
memuja dan melakukan upacara keagamaan bagi penganut kepercayaan Khong Hu Cu.
Istilah klenteng sendiri di Indonesia untuk menyebut kuil China dan digunakan
untuk menyebut tempat ibadah Tri Dharma. Banyak yang mengira kata Kelenteng
adalah istilah dari luar.
Sebenarnya kata Kelenteng hanya
dapat ditemui di Indonesia. Kalau ditilik kebiasaan orang Indonesia yang sering
memberi nama kepada suatu benda atau mahluk hidup berdasarkan bunyi-bunyian
yang ditimbulkan seperti Kodok Ngorek, Burung Pipit, Tokek, demikian pula
halnya dengan Kelenteng. Ketika di Kelenteng diadakan upacara keagamaan, sering
digunakan genta yang apabila dipukul akan berbunyi „klinting‟ sedang genta
besar berbunyi „klenteng‟. Maka bunyi-bunyian seperti itu yang keluar dari
tempat ibadat orang Cina dijadikan dasar acuan untuk merujuk tempat tersebut,
demikian menurut Moertiko. [13]
Kategori Klenteng
berdasarkan dari jumlah dewa yang dimuliakan menjadi tiga macam yaitu; pertama, Klenteng Umum, merupakan klenteng
yang terbuka bagi umum dan kepengurusannya biasanya ditangani oleh yayasan.
Dalam klenteng umum lazim ditemui beberapa dewa-dewi dari agama Budha, Tao, dan
Khong Hu Cu; Kedua, Klenteng
Spesifik, merupakan klenteng umum yang hanya memuliakan satu dewa saja, selain
memuliakan Tuhan; Ketiga, Klenteng Keluarga, merupakan klenteng yang didirikan
oleh sebuah keluarga atau marga tertentu untuk menghormati dewa-dewi yang
dianggap sebagai pelindung keluarga tersebut. Pada umumnya klenteng keluarga
tidak menutup diri bagi umat lain yang ingin beribadah. Dengan perkembangan
umat yang semakin banyak, klenteng keluarga dapat berubah menjadi klenteng
umum.[14]Klenteng Hok Ling Bio merupakan
klenteng umum, yang terbuka untuk umum dan pengurusannya ditangani oleh yayasan
Tridarma Amurva Bhumi.[15]
Kegiatan yang biasa dilakukan
pengurus maupun pengunjung dalam sebuah klenteng adalah aktivitas ibadah/sembahyang dengan peralatan dan
perlengkapan yang telah disediakan, upacara ritual/keagamaan, menyucikan diri
dengan konsentrasi dalam doa, dan memohon petunjuk (Jiam Sie. Banyak
pengunjung klenteng yang memohan petunjuk bagi kehidupan mereka seperti nasib,
jodoh, dan lain-lain dengan melakukan Jiam Sie (ramal nasib). Sebelum
melakukan Jiam Sie mereka harus sembahyang terlebih dahulu dan setelah
melakukan Jiam Sie dan memperoleh petunjuk, mereka dapat menanyakan arti
dari petunjuk yang telah diperoleh tersebut melalui petugas yang ada di
klenteng tersebut. Jiam Sie sebenarnya bukan ajaran Budha, melainkan berasal dari ahli-ahli
nujum/ramal negara Cina yang membuatnya.
Keberadaan umat beragama Khonghucu
beserta lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada
sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau
pedagang-pedagang Tionghoa
ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok yang berlangsung
sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah satu di antara
Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau tepatnya
tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara .[16]
1. Berdirinya Lembaga-Lembaga Agama Khonghucu
Di Indonesia
·
1918 diresmikan Khong Kauw Hwee (Kong Jiao Hui 唿•™æœƒ)
di kota Surakarta,
menyusul pula kota-kota lainnya.
·
Tahun 1920an Kong Jiao Hui 唿•™æœƒ Surabaya menerbitkan majalah Djiep Tek Tjie Boen (Ru De
Zhi Men 入德之門).
·
1923 mulai dilakukan musyawarah untuk membentuk badan pusat
yang dinamakan Khong Kauw Tjong Hwee (Kong Jiao Zong Hui 唿•™ç¸½æœƒ)
di Yogyakarta.
Bandung dipilih sebagai kedudukan pusat organisasi dan Poei Kok Gwan terpilih
sebagai ketua umum. Keputusan ini didukung oleh Khong Kauw Hwee dari kota Surabaya,
Sumenep, Kediri, Surakarta, Semarang,
Blora, Purbolinggo, Cicalengka, Wonogiri, Yogyakarta,
Kartasura, dan Pekalongan. Pada tahun itu
pula, diterbitkan majalah Khong Kauw Gwat Poo atau Kong
Jiao Yue Bao 唿•™æœˆå ±.
- 25 September 1924 diadakan Kongres di Bandung yang tujuan utamanya membahas lebih lanjut penyeragaman tata ibadah di seluruh tanah air.
- 25 Desember 1938 diadakan konferensi di Surakarta dan kedudukan pusat dialihkan ke kota Surakarta, dengan ketua umum Tio Tjien Ik, sekretaris Auw Ing Kiong dan diterbitkan majalah bulanan Bok Tok Gwat Po (Mu Duo Yue Bao).
- 20 Februari 1939 diadakan perayaan Tahun Baru Imlek bersama di Surakarta.
- 24 April 1940 diadakan konferensi Kong Jiao Zong Hui 唿•™ç¸½æœƒ di Surabaya yang hasil antara lain : Konferensi tahun 1941 akan diselenggarakan di Cirebon. Semua sekolah Khong Kauw Hwee diberi pelajaran agama Khonghucu. Upacara pernikahan dan kematian supaya diselidiki dan disesuaikan dengan keadaan zaman, tapi tetap berpatokan pada nilai-nilai Ru Jiao.
- Pada tahun 1942, karena imbas perang dunia II dan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia, Khong Kauw Tjong Hwee yang dianggap anti-Jepang dibekukan.
- Masa Penjajahan Jepang (1942-1945). Pada masa itu, Litang (tempat ibadah umat Khonghucu) banyak menampung pengungsi tanpa memandang ras. Hal ini sesuai dengan prinsip “Di Empat Penjuru Samudera Semua Umat Bersaudara” (四海之內,皆兄弟也 - Si Hai Zhi Nei, Jie Xiong Di Ye). Lun Yu 12:5.
- Masa Kemerdekaan - Pada awal-awal kemerdekaan NKRI, kegiatan Khong Kauw Hwee lebih banyak bersifat lokal. Pada bulan Desember 1954, di Solo, diselenggarakan konferensi tokoh-tokoh agama Khonghucu untuk persiapan membangun kembali Khong Kauw Tjong Hwee.
- Pada tgl 16 April 1955 dibentuk PKCHI (Perserikatan Khong Chiao Hwee Indonesia / Perserikatan Kong Jiao Hui Indonesia) sebagai penjelmaan kembali Khong Kauw Tjong Hwee dengan kedudukan pusat di Solo dengan Ketua umum: Dr. Kwik Tjie Tiok. Sekretaris: Oei Kok Dhan.
2. Kongres Agama Khonghucu
- Kongres pertama diselenggarakan 6-7 Juli 1956 di Solo. Dalam kongres ini disempurnakan AD dan ART PKCHI. Kedudukan pusat tetap di Solo dengan ketua Dr. Kwik Tjie Tiok dan sekretaris Tjan Bian Lie.
- Kongres kedua diselenggarakan di Bandung, tgl 6-9 Juli 1957. Kedudukan pusat tetap dipilih kota Solo dengan ketua Dr. Kwik Tjie Tiok dan Tjan Bian Lie sebagai sekretaris.
- Kongres ketiga diselenggarakan di Boen Bio Surabaya tgl 5-7 Juli 1959 dengan ketua umum Tan Hok Liang dan sekretaris Tan Liong Kie untuk periode 1959-1961 dengan kedudukan pusat di Bogor. Di dalam konggres ke empat di Solo 14-16 Juli 1961 diputuskan :
1. Mengintensifkan penyeragaman tata ibadah.
2. Mengubah nama PKCHI menjadi LASKI (Lembaga Agama
Sang Khongcu Indonesia)
3. Mengutus Thio Tjoan Tek, salah
seorang ketua LASKI, bersama dengan Prof. Dr. Mustopo dari Bandung, memohon
agar agama Khonghucu dikukuhkan dalam bimbingan kehidupan masyarakatnya oleh Kementerian Agama RI.
4. Solo kembali dipilih sebagai pusat
organisasi, Tjan Bian Lie sebagai
ketua umum dan The Ping Hap sebagai
sekretaris.
- Pada konferensi 22-23 Desember 1963 di Solo nama LASKI diubah menjadi GAPAKSI (Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu Se-Indonesia).
- Pada Konggres ke-5 di Tasikmalaya 5-6 Desember 1964, singkatan GAPAKSI diubah menjadi Gabungan Perhimpunan Agama Khonghucu Se-Indonesia.
- Pada Konggres ke-6 GAPAKSI di Solo 23-27 Agustus 1967, nama GAPAKSI diubah menjadi MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Terpilih sebagai pengurus: Ketua Umum: Tan Sing Hoo.Wakil Ketua Umum: Suryo Hutomo. Sekretaris: Ws. Oei Tjien San. Di dalam konggres ini Pejabat Presiden RI Soeharto dan Ketua MPRS A. H. Nasution, memberikan sambutan tertulis. Dirjen Bimasa agama Hindu dan Buddha Departemen Agama RI, I.B.P. Mastra yang saat itu sudah memberi tempat bagi umat agama Khonghucu di Departemennya, ikut memberikan sambutan atas nama Menteri Agama.
- Konggres ke-7 diselenggarakan di Pekalongan tgl 24-28 Desember 1969. Kedudukan pusat tetap di Solo. Kepengurusan periode 1969-1971 adalah; Ketua Umum: - Suryo Hutomo. Sekretaris: Tjiong Giok Hwa. Pada Konggres ini IBP Mastra, Dirjen Bimasa Agama Hindu dan Buddha, memberi sambutan mewakili Menteri Agama K. H. Mochammad Dahlan. Juga ikut memberikan sambutan tertulis Ketua MPRS A. H. Nasution.
- Tanggal 25-27 Desember 1970 diadakan Musyawarah Kerja (Muker) Makin-Makin se-Jawa Barat dan DKI Jaya untuk meningkatkan perkembangan Agama Khonghucu.
- Tanggal 3 Juli 1971 diadakan Musyawarah Kerja Seluruh Indonesia (MUKERSIN I), yang dihadiri utusan-utusan dari 41 daerah dengan tujuan mensukseskan Pelita dan Pemilihan Umum.
- Tanggal 23-27 Desember 1971 diselenggarakan Konggres ke-8 Matakin di Semarang. Hasilnya kedudukan pusat tetap di Solo dan terpilih:
- Ketua umum: Suryo Hutomo
- Sekretaris: Ibu Tjiong Giok Hwa.
- Tanggal 19-22 Desember 1975 di Tangerang diselenggarakan MUNAS III Dewan Rokhaniwan Agama Khonghucu Indonesia yang dihadiri oleh Rokhaniwan dari 25 daerah. Keputusan-keputusan penting di dalam munas ini adalah disahkannya penyempurnaan hukum perkawinan dan pelaksanaan upacara. Penyempurnaan dan penyeragaman tata Agama Khonghucu.
- Tanggal 20-23 Desember 1976 diselenggarakan MUKERSIN II di Jakarta yang dihadiri utusan-utusan dari 35 daerah untuk konsolidasi umat Khonghucu demi mensukseskan Pembangunan Nasional.
- Pada tanggal 28 s/d 9 September 1979 MATAKIN mengirim utusan mengikuti World Conference on Religion for Peace ke-3 di New Jersey, Amerika Serikat.
- Tanggal 23-31 Agustus 1984 MATAKIN mengirim utusan menghadiri World Conference on Religion for Peace di Nairobi, Kenya (Afrika).
- Tanggal 15 Januari 1987 di Solo diselenggarakan konferensi MATAKIN secara internal dan sebagai hasilnya telah terpilih Ketua Umum MATAKIN periode 1987-1991 yaitu Ws. Leo Kuswanto.
- Pada tanggal 14 Maret 1987 diadakan pertemuan MATAKIN dan disepakati untuk mengadakan revisi dan penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam rangka menyesuaikan diri dengan Undang-undang No.8/ 1985.
- Tahun 1993 diadakan Munas (Kongres) MATAKIN XII di Jakarta dan terpilih sebagai Koordinator Presidium Hengky Wijaya dengan Ketua Majelis Pimpinan Pusat Harian Js. Chandra Setiawan dan Sekretaris Irwanto. Kedudukan pusat MATAKIN di Jakarta.
- Tanggal 22-23 Agustus 1998 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta diselenggarakan Munas (Konggres) MATAKIN XIII yang dibuka oleh H. Amidhan mewakili Menteri Agama Malik Fadjar. Terpilih sebagai Ketua Umum Js. Chandra Setiawan dan Sekretaris Umum Budi S. Tanuwibowo.
- Tanggal 13-15 September 2002 diselenggarakan Musyawarah Nasional ke-14 MATAKIN di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta yang dibuka oleh Ketua MPR RI, Amien Rais. Ikut memberikan pengarahan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar, Menteri PPN/Kepala BAPPENAS Kwik Kian Gie, mantan Presiden RI K. H. Abdurrahman Wahid, Sekjen MUI Din Syamsudin, Ketua MUI Sulastomo. Pada Munas ini ditetapkan Ketua Umum untuk periode 2002-2006 adalah Js. Budi S. Tanuwibowo dan Sekretaris Umum Dede Hasan Senjaya.[17]
3.
Susunan
Pengurus Klenteng Hok Ling Bio
1. Pembina
Ø Ketua ; Tuan Wignyo Hartono
Ø Anggota
; 1. Tuan Djoyo Handriyo
2. Tuan Judo Rahardjo
2.
Pengurus
Ø Ketua ; Tuan The Chiung Shiung
Ø Sekretaris
; Nyonya Elina Nurlianti
Ø Bendahara;
Tuan Suhartono Rahard jo
3.
Pengawas
Ø Ketua ;Tuan Sugiono
Ø Anggota ; Tuan Santoso Budi Wibowo[18]
C.
Catatan Peneliti
1.
Peneliti ingin mengetahui lebih lanjut dari segi tehnis yaitu mengapa susunan
organisasi klenteng Hok Ling Bio tidak dibuat bagan yang sistematis untuk
ditempelkan atau digantung pada dinding Klenteng.
2.
Peneliti ingin juga mengetahui lebih lanjut mengapa Klenteng Hok Ling Bio tidak
menerbitkan atau menyusun buku yang isinya mengenai ajaran, organisasi,sejarah
atau lainnya yang berhubungan dengan klenteng.
DAFTAR PUSTAKA
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Raja Grafindo,
Jakarta, 2003.
Marzuki, Metode Riset, FEUII,
Yogyakarta, 1993.
Nasution, Metode Penelitian
Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung, Cet.Ke-3, 2003.
Nasution, Metodologi Research
Penelitian Ilmiah, Bumi Aksara, Cet. Ke-6, 2003.
Sugiyono, Memahami Penelitian
Kualitatif, Alfabeta, Bandung, 2005.
Sutrisno Hadi, Metode Penelitian
Research, Andi offset, Yogyakarta, 1989.
Winarno Surahmad, Dasar dan
Teknologi Research, Pengantar Metodologi Ilmiah, Tarsito, Bandung, 1992.
Muntohar, Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus . Ahfas
.Kudus, 2005.
Fox, James J.. Agama dan Upacara. Widyadara ,Jakarta, 2002.
Ratnawaty, Lianny. Arsitektur Klenteng di Surabaya.
Universitas Kristen Petra ,Surabaya,1989.
http;// sriti@petra.ac.id
[1]
Sutrisno Hadi, Metode Penelitian Research,
Andi offset, Yogyakarta, 1989, hlm. 78.
[2]
Nasution, Metode Penelitian Naturalistik
Kualitatif, Tarsito, Bandung, Cet.Ke-3, 2003, hlm. 5.
[3]
Winarno Surahmad, Dasar dan Teknologi
Research, Pengantar Metodologi Ilmiah,
Tarsito, Bandung, 1992, hlm. 139
[4]
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif,
Alfabeta, Bandung, 2005, hlm. 62-63
[5]
Ibid., 72
[6]
Marzuki, Metode Riset, FEUII,
Yogyakarta, 1993, hlm. 146
[7]
Nasution, Metodologi Research Penelitian
Ilmiah, Bumi Aksara, Cet. Ke-6, 2003, hlm. 149.
[8]
Sugiyono, Op.Cit., hlm. 17-18.
[9]
Ibid., hlm. 17
[10]
Ibid., hlm. 83.
[11]
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Raja Grafindo,
Jakarta, 2003, hlm. 60.
[12]
Muntohar, Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus . Ahfas .Kudus, 2005.hlm.6
[14]
Ratnawaty, Lianny. Arsitektur Klenteng di Surabaya.
Universitas Kristen Petra ,Surabaya,1989.hlm.9-11
[15]
Hartono, Ketua Pembina Klenteng Hok Ling Bio, Wawancara Umum, 17 Mei
2011
[16]
http;// sriti@petra.ac.id
[18]
Dikutip dari Dokumentasi Susunan Pengurus Klenteng Hok Ling Bio Jln.Sunan Kudus
tanggal 17 Mei 2011

