Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKALAH PERBANDINGAN AGAMA



ORGANISASI KLENTENG HOK LING BIO KUDUS
A. Pendahuluan
Pada tanggal 17 Mei 2011 para mahasiswa STAIN Kudus program studi PAI bimbingan ibu Eva Ida Amaliyah, MA mata kuliah perbandingan agama mengadakan observasi di klenteng Hok Ling Bio depan menara kudus.
Observasi dibagi empat kelompok besar yang terdiri dari kelompok organisasi, ajaran, sejarah ,dan hubungan internal eksternal. Kami kelompok pertama meneliti tentang organisasi, dari data yang kami peroleh waktu observasi bahwa susunan organisasi kelenteng Hok Ling Bio adalah sebagai berikut:

Susunan Pengurus
1. Pembina
Ø Ketua     ; Tuan Wignyo Hartono
Ø Anggota ;1. Tuan Djoyo Handriyo
  2. Tuan Judo Rahardjo         
2. Pengurus
Ø Ketua       ; Tuan The Chiung Shiung
Ø Sekretaris ; Nyonya Elina Nurlianti
Ø Bendahara; Tuan Suhartono Rahardjo
1.    Pengawas
Ø Ketua       ;Tuan Sugiono
Ø Anggota   ; Tuan Santoso Budi Wibowo
 

 



Dari data tersebut, peneliti menganalisis dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif adalah sebagai berikut;
A.  Metode Penelitian
1.   Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah field research, yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan peneliti langsung terjun ke kancah penelitian atau tempat fenomena terjadi.[1]
2.   Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya[2] 
Dalam penelitian ini digunakan pendekatan analisis data deskriptif kualitatif. Pendekatan analisis data deskriptif kualitatif adalah menemukan dan menafsirkan data yang ada, maksudnya pendekatan ini dalam mengungkapkan data yang dapat digambarkan dengan kata-kata.[3]
Dengan digunakan pendekatan kualitatif, maka data yang didapat akan lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian dapat dicapai. Karena penelitian ini akan mencari data yang bersifat proses kerja, perkembangan suatu kegiatan, deskripsi yang luas dan mendalam, perasaan, norma, kenyakinan, sikap mental, etos kerja dan budaya yang dianut seseorang maupun sekelompok orang dalam lingkungan kerjanya. Maka dari itu penelitian ini lebih cocok menggunakan penelitian kualitatif.


3.   Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
a. Sumber
Sumber data dalam menunjang penelitian ini dihasilkan dari dua sumber, yaitu :
1)   Sumber data primer, yaitu data yang bersumber langsung dari obyek yang diteliti. Data primer ini bisa diperoleh dari Pembina, pengurus, dan pengawas klenteng Hok Ling Bio.
2)   Sumber data sekunder, adalah data yang bersumber dari literatur untuk menyusun kepustakaan pada landasan teori.
b.Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sehingga digunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara dan observasi dan dokumentasi.[4]
1. Wawancara
Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam satu topik tertentu.[5]
Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang jalannya organisasi klenteng hok ling bio
2. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan yang sistematis mengenai fenomena-fenomena yang diselidiki.[6]
Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data tentang keadaan umum klenteng hok ling bio.

3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik yang dipergunkan untuk mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan kegiatan, prasasti, notulen, agenda dan sebagainya.[7] Metode ini diguanakan untuk memperoleh data yang bersifat dokumenter, seperti; peta, foto, data-data tentang struktur organisasi klenteng hok ling bio
4.   Teknis Analisis Data
Teknis analisis  yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Model analisis ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Proses ini dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebgai suatu siklus.
Proses penelitihan kualitatif pada tahap ke I disebut orientasi atau deskriptif. Data tahap peneliti mendiskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Mereka baru mengenal serba sepintas terhadap informasi yang diperorehnya. Proses penelitihan kualitatif pada tahap ke 2 disebut tahap reduksi/ fokus. Pada tahap ini peneliti menfokuskan pada masalah tertentu dan meyortir data dengan cara memilih mana data yang menarik, penting, berguna dan baru. Data yang dirasa tidak berguna disingkirkan atau tidak terpakai. Sedangkan pada tahap ke 3 adalah tahap selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan fakus yang telah ditatapkan menjadi lebih rinci. Setelah peneliti menguraikan analisis yang mendalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan tema dengan cara mengkonstruksikan data yang diperoleh menjadi suatu bangunan pengetahuan, hipotesis atau ilmu yang baru.[8]

5.   Keabsahan Data (Validitas Data)
Uji keabsahan data dalam penelitian sering hanya ditekankan pada validitas dan reliabilitas. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti.[9]
Pada penelitian bermetode kualitatif, maka untuk mengukur keabsahan data digunakan metode trianggulasi. Trianggulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. [10]
Dalam melakukan trianggulasi peneliti menggunakan :
a)   Trianggulasi metode adalah menggunakan lintas metode pengumpulan data,
b)   Trianggulasi sumber data, yaitu memilih berbagai sumber data yang sesuai,
c)   Trianggulasi pengumpul data yaitu beberapa peneliti yang mengumpulkan data secara terpisah. Dengan teknik trianggulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi seluas-luasnya atau selengkap-lengkapnya. Trianggulasi pengumpulan data, misalkan untuk mendapatkan data dapat diperoleh melalui interview, sedangkan untuk melengkapinya dapat dilakukan melalui observasi dan dokumentasi.[11]






B. Analisis
Masyarakat Kudus adalah masyarakat yang terkenal sebagai masyarakat religius. Sikap religius masyarakat Kudus ini tercermin dari beberapa sikap dan perilaku keseharian masyarakat Kudus yang senantiasa dalam suasana khusyuk, tenang, tentram dan damai.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan akan jasmani dan rohani sangat   dibutuhkan oleh manusia. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani manusia bisa melakukan berbagai macam aktivitas seperti berolah raga ataupun bekerja agar tetap sehat, sedangkan untuk kebutuhan rohani manusia dapat mendekatkan dirinya kepada sang penciptanya dengan meyakini sebuah kepercayaan dalam bentuk agama. Kepercayaan masyarakat keturunan Cina (masyarakat Tionghoa) tidak diyakini sebagai agama, tetapi diakui sebagai aliran saja yang dikenal sebagai aliran kepercayaan Khong Hu Cu.
Pemerintah Indonesia menghormati keberadaan masyarakat Tionghoa dengan tidak mendiskriminasikan dengan agama-agama lain yang ada di Indonesia, dimana masyarakat Tionghoa diberi kewenangan untuk mendirikan tempat ibadah yang sesuai dengan keyakinan yang diyakininya, dan tempat ibadah tersebut dikenal dengan sebutan klenteng. Sampai saat ini, jumlah klenteng yang ada di Indonesia sedikit jumlahnya dibandingkan dengan tempat ibadah agama-agama lainnya.
Di Kudus tahun 2004, data sarana peribadatan menyebutkan bahwa jumlah  masjid 530 buah, mushola/langgar 1.772 buah, gereja Kristen 23 buah, gereja Katholik 4 buah, Pure 1 buah, Vihara 11 buah dan Klenteng 3 buah  salah satunya adalah klenteng Hok Ling Bio yang terletak di jalan sunan kudus.[12]
Menurut kamus bahasa Indonesia, Klenteng  merupakan bangunan tempat memuja dan melakukan upacara keagamaan bagi penganut kepercayaan Khong Hu Cu. Istilah klenteng sendiri di Indonesia untuk menyebut kuil China dan digunakan untuk menyebut tempat ibadah Tri Dharma. Banyak yang mengira kata Kelenteng adalah istilah dari luar.  Sebenarnya  kata Kelenteng hanya dapat ditemui di Indonesia. Kalau ditilik kebiasaan orang Indonesia yang sering memberi nama kepada suatu benda atau mahluk hidup berdasarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan seperti Kodok Ngorek, Burung Pipit, Tokek, demikian pula halnya dengan Kelenteng. Ketika di Kelenteng diadakan upacara keagamaan, sering digunakan genta yang apabila dipukul akan berbunyi „klinting‟ sedang genta besar berbunyi „klenteng‟. Maka bunyi-bunyian seperti itu yang keluar dari tempat ibadat orang Cina dijadikan dasar acuan untuk merujuk tempat tersebut, demikian menurut Moertiko. [13]
Kategori   Klenteng   berdasarkan   dari jumlah  dewa yang dimuliakan menjadi tiga macam yaitu;  pertama, Klenteng Umum, merupakan klenteng yang terbuka bagi umum dan kepengurusannya biasanya ditangani oleh yayasan. Dalam klenteng umum lazim ditemui beberapa dewa-dewi dari agama Budha, Tao, dan Khong Hu Cu; Kedua,  Klenteng Spesifik, merupakan klenteng umum yang hanya memuliakan satu dewa saja, selain memuliakan Tuhan; Ketiga, Klenteng Keluarga, merupakan klenteng yang didirikan oleh sebuah keluarga atau marga tertentu untuk menghormati dewa-dewi yang dianggap sebagai pelindung keluarga tersebut. Pada umumnya klenteng keluarga tidak menutup diri bagi umat lain yang ingin beribadah. Dengan perkembangan umat yang semakin banyak, klenteng keluarga dapat berubah menjadi klenteng umum.[14]Klenteng Hok Ling Bio merupakan klenteng umum, yang terbuka untuk umum dan pengurusannya ditangani oleh yayasan Tridarma Amurva Bhumi.[15]
Kegiatan yang biasa dilakukan pengurus maupun pengunjung dalam sebuah klenteng adalah aktivitas  ibadah/sembahyang dengan peralatan dan perlengkapan yang telah disediakan, upacara ritual/keagamaan, menyucikan diri dengan konsentrasi dalam doa, dan memohon petunjuk (Jiam Sie. Banyak pengunjung klenteng yang memohan petunjuk bagi kehidupan mereka seperti nasib, jodoh, dan lain-lain dengan melakukan Jiam Sie (ramal nasib). Sebelum melakukan Jiam Sie mereka harus sembahyang terlebih dahulu dan setelah melakukan Jiam Sie dan memperoleh petunjuk, mereka dapat menanyakan arti dari petunjuk yang telah diperoleh tersebut melalui petugas yang ada di klenteng tersebut. Jiam Sie sebenarnya bukan ajaran  Budha, melainkan berasal dari ahli-ahli nujum/ramal negara Cina yang membuatnya.
Keberadaan umat beragama Khonghucu beserta lembaga-lembaga keagamaannya di Nusantara atau Indonesia ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan kedatangan perantau atau pedagang-pedagang Tionghoa ke tanah air kita ini. Mengingat sejak zaman Sam Kok yang berlangsung sekitar abad ke-3 Masehi, Agama Khonghucu telah menjadi salah satu di antara Tiga Agama Besar di China waktu itu; lebih-lebih sejak zaman dinasti Han, atau tepatnya tahun 136 sebelum Masehi telah dijadikan Agama Negara .[16]
1. Berdirinya Lembaga-Lembaga Agama Khonghucu Di Indonesia
·         1918 diresmikan Khong Kauw Hwee (Kong Jiao Hui 孔教會) di kota Surakarta, menyusul pula kota-kota lainnya.
·         Tahun 1920an Kong Jiao Hui 孔教會 Surabaya menerbitkan majalah Djiep Tek Tjie Boen (Ru De Zhi Men 入德之門).
·         1923 mulai dilakukan musyawarah untuk membentuk badan pusat yang dinamakan Khong Kauw Tjong Hwee (Kong Jiao Zong Hui 孔教總會) di Yogyakarta. Bandung dipilih sebagai kedudukan pusat organisasi dan Poei Kok Gwan terpilih sebagai ketua umum. Keputusan ini didukung oleh Khong Kauw Hwee dari kota Surabaya, Sumenep, Kediri, Surakarta, Semarang, Blora, Purbolinggo, Cicalengka, Wonogiri, Yogyakarta, Kartasura, dan Pekalongan. Pada tahun itu pula, diterbitkan majalah Khong Kauw Gwat Poo atau Kong Jiao Yue Bao 孔教月報.
  • 25 September 1924 diadakan Kongres di Bandung yang tujuan utamanya membahas lebih lanjut penyeragaman tata ibadah di seluruh tanah air.
  • 25 Desember 1938 diadakan konferensi di Surakarta dan kedudukan pusat dialihkan ke kota Surakarta, dengan ketua umum Tio Tjien Ik, sekretaris Auw Ing Kiong dan diterbitkan majalah bulanan Bok Tok Gwat Po (Mu Duo Yue Bao).
  • 24 April 1940 diadakan konferensi Kong Jiao Zong Hui 孔教總會 di Surabaya yang hasil antara lain : Konferensi tahun 1941 akan diselenggarakan di Cirebon. Semua sekolah Khong Kauw Hwee diberi pelajaran agama Khonghucu. Upacara pernikahan dan kematian supaya diselidiki dan disesuaikan dengan keadaan zaman, tapi tetap berpatokan pada nilai-nilai Ru Jiao.
  • Pada tahun 1942, karena imbas perang dunia II dan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia, Khong Kauw Tjong Hwee yang dianggap anti-Jepang dibekukan.
  • Masa Penjajahan Jepang (1942-1945). Pada masa itu, Litang (tempat ibadah umat Khonghucu) banyak menampung pengungsi tanpa memandang ras. Hal ini sesuai dengan prinsip “Di Empat Penjuru Samudera Semua Umat Bersaudara” (四海之內,皆兄弟也 - Si Hai Zhi Nei, Jie Xiong Di Ye). Lun Yu 12:5.
  • Masa Kemerdekaan - Pada awal-awal kemerdekaan NKRI, kegiatan Khong Kauw Hwee lebih banyak bersifat lokal. Pada bulan Desember 1954, di Solo, diselenggarakan konferensi tokoh-tokoh agama Khonghucu untuk persiapan membangun kembali Khong Kauw Tjong Hwee.
  • Pada tgl 16 April 1955 dibentuk PKCHI (Perserikatan Khong Chiao Hwee Indonesia / Perserikatan Kong Jiao Hui Indonesia) sebagai penjelmaan kembali Khong Kauw Tjong Hwee dengan kedudukan pusat di Solo dengan Ketua umum: Dr. Kwik Tjie Tiok. Sekretaris: Oei Kok Dhan.
2. Kongres Agama Khonghucu
  • Kongres pertama diselenggarakan 6-7 Juli 1956 di Solo. Dalam kongres ini disempurnakan AD dan ART PKCHI. Kedudukan pusat tetap di Solo dengan ketua Dr. Kwik Tjie Tiok dan sekretaris Tjan Bian Lie.
  • Kongres kedua diselenggarakan di Bandung, tgl 6-9 Juli 1957. Kedudukan pusat tetap dipilih kota Solo dengan ketua Dr. Kwik Tjie Tiok dan Tjan Bian Lie sebagai sekretaris.
  • Kongres ketiga diselenggarakan di Boen Bio Surabaya tgl 5-7 Juli 1959 dengan ketua umum Tan Hok Liang dan sekretaris Tan Liong Kie untuk periode 1959-1961 dengan kedudukan pusat di Bogor. Di dalam konggres ke empat di Solo 14-16 Juli 1961 diputuskan :
1.    Mengintensifkan penyeragaman tata ibadah.
2.    Mengubah nama PKCHI menjadi LASKI (Lembaga Agama Sang Khongcu Indonesia)
3.    Mengutus Thio Tjoan Tek, salah seorang ketua LASKI, bersama dengan Prof. Dr. Mustopo dari Bandung, memohon agar agama Khonghucu dikukuhkan dalam bimbingan kehidupan masyarakatnya oleh Kementerian Agama RI.
4.    Solo kembali dipilih sebagai pusat organisasi, Tjan Bian Lie sebagai ketua umum dan The Ping Hap sebagai sekretaris.
  • Pada Konggres ke-6 GAPAKSI di Solo 23-27 Agustus 1967, nama GAPAKSI diubah menjadi MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia). Terpilih sebagai pengurus: Ketua Umum: Tan Sing Hoo.Wakil Ketua Umum: Suryo Hutomo. Sekretaris: Ws. Oei Tjien San. Di dalam konggres ini Pejabat Presiden RI Soeharto dan Ketua MPRS A. H. Nasution, memberikan sambutan tertulis. Dirjen Bimasa agama Hindu dan Buddha Departemen Agama RI, I.B.P. Mastra yang saat itu sudah memberi tempat bagi umat agama Khonghucu di Departemennya, ikut memberikan sambutan atas nama Menteri Agama.
  • Konggres ke-7 diselenggarakan di Pekalongan tgl 24-28 Desember 1969. Kedudukan pusat tetap di Solo. Kepengurusan periode 1969-1971 adalah; Ketua Umum: - Suryo Hutomo. Sekretaris: Tjiong Giok Hwa. Pada Konggres ini IBP Mastra, Dirjen Bimasa Agama Hindu dan Buddha, memberi sambutan mewakili Menteri Agama K. H. Mochammad Dahlan. Juga ikut memberikan sambutan tertulis Ketua MPRS A. H. Nasution.
  • Tanggal 25-27 Desember 1970 diadakan Musyawarah Kerja (Muker) Makin-Makin se-Jawa Barat dan DKI Jaya untuk meningkatkan perkembangan Agama Khonghucu.
  • Tanggal 3 Juli 1971 diadakan Musyawarah Kerja Seluruh Indonesia (MUKERSIN I), yang dihadiri utusan-utusan dari 41 daerah dengan tujuan mensukseskan Pelita dan Pemilihan Umum.
  • Tanggal 23-27 Desember 1971 diselenggarakan Konggres ke-8 Matakin di Semarang. Hasilnya kedudukan pusat tetap di Solo dan terpilih:
    1. Ketua umum: Suryo Hutomo
    2. Sekretaris: Ibu Tjiong Giok Hwa.
  • Tanggal 19-22 Desember 1975 di Tangerang diselenggarakan MUNAS III Dewan Rokhaniwan Agama Khonghucu Indonesia yang dihadiri oleh Rokhaniwan dari 25 daerah. Keputusan-keputusan penting di dalam munas ini adalah disahkannya penyempurnaan hukum perkawinan dan pelaksanaan upacara. Penyempurnaan dan penyeragaman tata Agama Khonghucu.
  • Tanggal 20-23 Desember 1976 diselenggarakan MUKERSIN II di Jakarta yang dihadiri utusan-utusan dari 35 daerah untuk konsolidasi umat Khonghucu demi mensukseskan Pembangunan Nasional.
  • Pada tanggal 28 s/d 9 September 1979 MATAKIN mengirim utusan mengikuti World Conference on Religion for Peace ke-3 di New Jersey, Amerika Serikat.
  • Tanggal 23-31 Agustus 1984 MATAKIN mengirim utusan menghadiri World Conference on Religion for Peace di Nairobi, Kenya (Afrika).
  • Tanggal 15 Januari 1987 di Solo diselenggarakan konferensi MATAKIN secara internal dan sebagai hasilnya telah terpilih Ketua Umum MATAKIN periode 1987-1991 yaitu Ws. Leo Kuswanto.
  • Pada tanggal 14 Maret 1987 diadakan pertemuan MATAKIN dan disepakati untuk mengadakan revisi dan penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam rangka menyesuaikan diri dengan Undang-undang No.8/ 1985.
  • Tahun 1993 diadakan Munas (Kongres) MATAKIN XII di Jakarta dan terpilih sebagai Koordinator Presidium Hengky Wijaya dengan Ketua Majelis Pimpinan Pusat Harian Js. Chandra Setiawan dan Sekretaris Irwanto. Kedudukan pusat MATAKIN di Jakarta.
3. Susunan Pengurus Klenteng Hok Ling Bio
1. Pembina
Ø Ketua     ; Tuan Wignyo Hartono
Ø Anggota ; 1. Tuan Djoyo Handriyo
                        2. Tuan Judo Rahardjo           
2. Pengurus
Ø Ketua       ; Tuan The Chiung Shiung
Ø Sekretaris ; Nyonya Elina Nurlianti
Ø Bendahara; Tuan Suhartono Rahard jo
3. Pengawas
Ø Ketua       ;Tuan Sugiono
Ø Anggota   ; Tuan Santoso Budi Wibowo[18]






C. Catatan Peneliti
1. Peneliti ingin mengetahui lebih lanjut dari segi tehnis yaitu mengapa susunan organisasi klenteng Hok Ling Bio tidak dibuat bagan yang sistematis untuk ditempelkan atau digantung pada dinding Klenteng.
2. Peneliti ingin juga mengetahui lebih lanjut mengapa Klenteng Hok Ling Bio tidak menerbitkan atau menyusun buku yang isinya mengenai ajaran, organisasi,sejarah atau lainnya yang berhubungan dengan klenteng.


 

 

















DAFTAR PUSTAKA
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Raja Grafindo, Jakarta, 2003.
Marzuki, Metode Riset, FEUII, Yogyakarta, 1993.
Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung, Cet.Ke-3, 2003.
Nasution, Metodologi Research Penelitian Ilmiah, Bumi Aksara, Cet. Ke-6, 2003.
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung, 2005.
Sutrisno Hadi, Metode Penelitian Research, Andi offset, Yogyakarta, 1989.
Winarno Surahmad, Dasar dan Teknologi Research, Pengantar Metodologi Ilmiah, Tarsito, Bandung, 1992.
Muntohar, Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus . Ahfas .Kudus, 2005.
Fox, James J.. Agama dan Upacara. Widyadara ,Jakarta, 2002.
Ratnawaty, Lianny. Arsitektur Klenteng di Surabaya. Universitas Kristen Petra ,Surabaya,1989.
http;// sriti@petra.ac.id


[1] Sutrisno Hadi, Metode Penelitian Research, Andi offset, Yogyakarta, 1989, hlm. 78.
[2] Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung, Cet.Ke-3, 2003, hlm. 5.
[3] Winarno Surahmad, Dasar dan Teknologi Research, Pengantar Metodologi Ilmiah, Tarsito, Bandung, 1992, hlm. 139
[4] Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung, 2005, hlm. 62-63
[5] Ibid., 72
[6] Marzuki, Metode Riset, FEUII, Yogyakarta, 1993, hlm. 146

[7] Nasution, Metodologi Research Penelitian Ilmiah, Bumi Aksara, Cet. Ke-6, 2003, hlm. 149.
[8] Sugiyono, Op.Cit., hlm. 17-18.

[9] Ibid., hlm. 17
[10] Ibid., hlm. 83.
[11] Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Raja Grafindo, Jakarta, 2003, hlm. 60.
[12] Muntohar, Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus . Ahfas .Kudus, 2005.hlm.6
[13] Fox, James J.. Agama dan Upacara. Widyadara ,Jakarta, 2002,hlm.56
[14] Ratnawaty, Lianny. Arsitektur Klenteng di Surabaya. Universitas Kristen Petra ,Surabaya,1989.hlm.9-11
[15] Hartono, Ketua Pembina Klenteng Hok Ling Bio, Wawancara Umum, 17 Mei 2011
[16] http;// sriti@petra.ac.id
[18] Dikutip dari Dokumentasi Susunan Pengurus Klenteng Hok Ling Bio Jln.Sunan Kudus tanggal 17 Mei 2011
 


http://www.4shared.com/office/01HjNN67ce/MAKALAH_PERBANDINGAN_AGAMA.html